Berita Bencana Alam

5 Faktor Pemicu Cuaca Ekstrem Beresiko bencana Di Wilayah Indonesia

5 Faktor Pemicu Cuaca Ekstrem Beresiko bencana Di Wilayah Indonesia – Potensi cuaca ekstrem yang berdampak pada risiko kejadian bencana hidrometeorologi semakin meningkat di sejumlah wilayah Indonesia saat ini dipicu oleh beberapa kondisi iklim.

5 Faktor Pemicu Cuaca Ekstrem Beresiko bencana Di Wilayah Indonesia

Sumber : kompas.com

sfreedomfch – Hal ini disampaikan oleh (Hal ini disampaikan oleh) Deputy Secretary-General Biden Meteorologi Bataan Meteorologi Klimatologi Di Kofi Sika (BMKG), MSi dalam konferensi pers secara daring, Guswanto,

BMKG sejak October 2020 Lula telah memprediksikan bahwa puncak musim hujan periode awal tahun 2021 kali ini akan berlangsung pada bulan Januari hingga Februari 2021.

Di himpun dari kompas,com Hujan ekstrem tersebut sangat berpotensi menimbulkan dampak Bencana Alam hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor yang dapat membahayakan bagi publik, serta hujan lebat disertai kilat atau petir semicak dan melamutanaya yapa rakberakana tremak beaktor beaktor beaktor beaktor beak hidrometeorologi di Indonesia.

1. Monsoon Asia

Sumber : pinterest.com

Secara tradisional musiman membalikkan angin disertai cocok pergantian curah hujan , tetapi saat ini digunakan untuk menggambarkan pergantian musiman didalam atmosfer sirkulasi dan curah hujan yang berkenaan bersama dengan pemanasan asimetris tanah dan laut.

Biasanya istilah monsun digunakan untuk merujuk pada fase hujan yang pola perubahannya musiman, walau secara teknis ada termasuk fase kering. Istilah ini kadang-kadang digunakan secara tidak pas untuk hujan lebat lokal tetapi didalam jangka pendek.

Awan monsun dan hujan deras di Aralvaimozhy, dekat Nagercoil , India

Sistem monsun utama dunia terdiri dari monsun Afrika Barat dan Asia – Australia . Dimasukkannya monsun Amerika Utara dan Selatan bersama dengan pembalikan angin yang tidak lengkap telah diperdebatkan.

Istilah ini pertama kali digunakan didalam bhs Inggris di British India dan negara-negara tetangga untuk merujuk pada angin besar musiman yang bertiup dari Teluk Benggala dan Laut Arab di barat daya yang membawa curah hujan tinggi ke area tersebut.

  • Etimologi

Etimologi kata monsun tidak sepenuhnya pasti. [9] Musim hujan Inggris berasal dari bhs Portugis monção , selanjutnya dari bhs Arab mawsim ( موسم “musim”), “mungkin lebih dari satu melalui monson Belanda moderen awal .”

  • Sejarah

Penguatan monsun Asia telah dikaitkan bersama dengan pengangkatan Dataran Tinggi Tibet setelah tumbukan anak benua India dan Asia kurang lebih 50 juta th. yang lalu. Karena belajar catatan dari Laut Arab dan bahwa dari debu yang tertiup angin di Dataran Tinggi Huangtu dari Cina , banyak ahli geologi yakin musim hujan pertama menjadi kuat kurang lebih 8 juta th. yang lalu. Baru-baru ini, penelitian berkenaan fosil tumbuhan di Cina dan catatan sedimen baru berdurasi lama dari Laut Cina Selatan mengakibatkan pas monsun di mulai 15-20 juta th. yang lalu dan berkenaan bersama dengan pengangkatan awal Tibet. Pengujian hipotesis ini tunggu pengambilan sampel laut didalam oleh Program Pengeboran Laut Terpadu . Kekuatan monsun beragam secara berarti sejak pas ini, lebih dari satu besar berkenaan bersama dengan pergantian iklim global, lebih-lebih siklus zaman es Pleistosen . Sebuah belajar berkenaan plankton laut memperlihatkan bahwa Monsun India menguat kurang lebih 5 juta th. yang lalu. Kemudian, sepanjang periode es, permukaan laut turun dan Laut Indonesia ditutup. Ketika ini terjadi, air dingin di Pasifik terhambat untuk mengalir ke Samudra Hindia. Dipercaya bahwa peningkatan suhu permukaan laut di Samudera Hindia meningkatkan intensitas monsun.

Lima episode sepanjang Kuarter di 2,22 Ma (PL-1), 1,83 Ma (PL-2), 0,68 Ma (PL-3), 0,45 Ma (PL-4) dan 0,04 Ma (PL-5) diidentifikasi yang memperlihatkan melemahnya Arus Leeuwin (LC) . Pelemahan LC dapat berdampak pada bidang suhu permukaan laut (SST) di Samudera Hindia, sebagai Arus Lintas Indonesia.umumnya menghangatkan Samudera Hindia. Jadi lima interval ini mungkin mampu menjadi interval penurunan SST yang memadai besar di Samudera Hindia dan dapat merubah intensitas musim hujan India. Selama LC lemah, ada mungkin berkurangnya intensitas monsun musim dingin India dan monsun musim panas yang kuat, dikarenakan pergantian dipol Samudra Hindia akibat pengurangan masukan panas bersih ke Samudera Hindia melalui Arus Lintas Indonesia. Dengan demikian, pemahaman yang lebih baik berkenaan mungkin pertalian pada El Niño , Kolam Hangat Pasifik Barat, Arus Lintas Indonesia, pola angin di Australia barat, dan ekspansi dan kontraksi volume es mampu diperoleh bersama dengan mempelajari tabiat LC sepanjang Kuarter pada interval stratigrafi yang dekat.

  • Kekuatan dampak

Dampak musim hujan pada cuaca lokal berlainan dari satu area ke area lain. Di lebih dari satu tempat, ada mungkin curah hujan lebih sedikit atau lebih sedikit. Di area lain, semi-gurun pasir diubah menjadi padang rumput hijau yang cerah di mana segala tipe tanaman dan tanaman mampu tumbuh subur.

Monsun India mengubah lebih dari satu besar India dari semacam semi-gurun menjadi tanah hijau. Lihat foto yang cuma diambil bersama dengan selisih 3 bulan di Western Ghats. Di tempat-tempat seperti ini, terlampau perlu bagi petani untuk punyai pas yang pas untuk letakkan benih di ladang, dikarenakan perlu untuk menggunakan seluruh hujan yang ada untuk bercocok tanam.

  • Proses

Musim hujan adalah angin laut berskala besar yang terjadi ketika suhu di darat lebih hangat atau lebih dingin daripada suhu laut. Ketidakseimbangan suhu ini terjadi dikarenakan lautan dan daratan menyerap panas bersama dengan langkah yang berbeda. Di atas lautan, suhu udara tetap relatif stabil dikarenakan dua alasan: air punyai kapasitas panas yang relatif tinggi (3,9 sampai 4,2 J g −1 K −1 ), dan dikarenakan konduksi dan konveksi dapat menyeimbangkan permukaan yang panas atau dingin bersama dengan air lebih didalam (hingga 50 meter). Sebaliknya, kotoran, pasir, dan batuan punyai kapasitas panas yang lebih rendah (0,19 sampai 0,35 J g −1 K −1 ), dan mereka cuma mampu mengirimkan panas ke bumi melalui konduksi dan bukan konveksi. Oleh dikarenakan itu, badan air bertahan pada suhu yang lebih merata, tetapi suhu tanah lebih bervariasi.

Selama bulan-bulan yang hangat, sinar matahari memanaskan permukaan daratan dan lautan, tetapi suhu daratan meningkat lebih cepat. Saat permukaan tanah menjadi lebih hangat, udara di atasnya mengembang dan area bertekanan rendah berkembang. Sementara itu, suhu samudra tetap lebih rendah daripada suhu darat, dan udara di atasnya punyai tekanan yang lebih tinggi. Perbedaan tekanan ini mengakibatkan angin laut bertiup dari laut ke darat, membawa udara lembab ke pedalaman. Udara lembab ini naik ke ketinggian yang lebih tinggi di atas daratan dan sesudah itu mengalir kembali ke laut (dengan demikian merampungkan siklusnya). Namun, pas udara naik, dan pas masih di atas daratan, udara menjadi dingin . Ini menurunkan kebolehan udara untuk menahan air , dan ini mengakibatkan pengendapandi atas tanah. Inilah mengapa musim panas mengakibatkan begitu banyak hujan di daratan.

Di bulan-bulan yang lebih dingin, siklusnya terbalik. Kemudian daratan mendingin lebih cepat dari lautan dan udara di atas daratan punyai tekanan yang lebih tinggi daripada udara di atas lautan. Hal ini mengakibatkan udara di atas daratan mengalir ke laut. Saat udara lembab naik di atas lautan, ia mendingin, dan ini mengakibatkan pengendapan di atas lautan. (Udara dingin sesudah itu mengalir menuju daratan untuk merampungkan siklusnya.)

Sebagian besar musim panas punyai komponen barat yang dominan dan kecenderungan kuat untuk naik dan membuahkan curah hujan yang terlalu berlebih (karena kondensasi uap air di udara yang naik). Namun intensitas dan durasinya tidak seragam dari th. ke tahun. Musim dingin, sebaliknya, punyai komponen timur yang dominan dan kecenderungan kuat untuk menyimpang, mereda dan mengakibatkan kekeringan.

Curah hujan serupa terjadi ketika udara laut yang lembab diangkat ke atas oleh pegunungan, pemanasan permukaan, konvergensi di permukaan,divergensi di atas, atau dari arus terlihat akibat badai di permukaan. Bagaimanapun pengangkatan terjadi, udara mendingin dikarenakan ekspansi pada tekanan yang lebih rendah, dan ini membuahkan kondensasi .

Baca juga : 5 Fakta Nunuk Nuraini, Penemu Bumbu Indomie Goreng Yang Jarang Terekspos

2. Lingkungan

Sumber : mui-lplhsda.org

Peningkatan trend curah hujan ekstrem ini, tak sekedar dipicu oleh fenomena dan atau problem skala iklim, dikaitkan terhitung sebagai pengaruh pergantian iklim. Guswanto menjelaskan, perihal ini cocok dengan hasil kajian Siswanto dkk, 2015 untuk wilayah Jakarta tunjukkan bahwa frekuensi kejadian hujan tinggi yang jadi meningkat. “Dari pengamatan BMKG meskipun curah hujan berada pada tingkat sedang, tapi masih berpotensi mengakibatkan bencana hidrometeorologi. Hal ini bergantung pada kekuatan dukung lingkungan di dalam merespon keadaan curah hujan,” kata Guswanto.

Kondisi bencana selanjutnya seperti terjadinya banjir bandang, gara-gara terdapatnya tumpukan endapan longsor yang masuk ke lembah sungai dan terhitung terdapatnya sisa-sisa penebangan pohon dibagian hulu. Di mana seharusnya pohon-pohon selanjutnya sanggup menahan atau membendung air, sehingga tidak terjadi bencana banjir bandang di pemukiman warga. Jika hujan tetap berlangsung, lantas bakal menjebol bendung tumpukan endapan longsor dan ranting kayu tersebut, sehingga endapan dan ranting kayu hanyut dengan kecepatan tinggi, menyebabkan banjir bandang di bagian hilirnya.

Demikian pula banjir dan genangan, tak sekedar akibat curah hujan tinggi terhitung sanggup diakibatkan keadaan permukaan yang tidak menolong air mengalir dengan cepat atau normal ke saluran-saluran yang semestinya.

3. Fenomena La Nina

Sumber : mediaindonesia.com

La Nina adalah fenomena suhu permukaan laut yang mengalami penurunan sepanjang timur dan tengah Samudera Pasifik di garis khatulistiwa. Penurunan suhu tersebut sebanyak 3° hingga 5° C dari suhu normal. Kemunculan fenomena La Nina biasanya berlangsung paling tidak sepanjang lima bulan.

Fenomena ini memiliki dampak yang terlampau besar pada cuaca apalagi iklim di sebagian besar wilayah dunia, terlebih di wilayah Amerika Utara, apalagi berdampak pada pola musim terjadinya Badai Atlantik dan Badai Pasifik.

La Nina sendiri merupakan kebalikan dari fenomena El Niño. Nama La Niña berasal dari bhs Spanyol yang berarti anak perempuan atau putri. Selain itu, fenomena ini pernah termasuk disebut sebagai anti El Niño, dan El Viejo yang berarti si Tua. Fenomena La Niña udah berlangsung sepanjang ratusan tahun dan biasanya secara teratur, sepanjang awal abad ke-17 dan awal abad ke-19.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG), prakiraan dampak La Nina berlangsung pada akhir 2020 hingga awal 2021.

Sebagian besar wilayah Indonesia selagi ini udah memasuki musim hujan sejak Oktober hingga November 2020. Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah bagian barat. Adapun puncak musim hujan diprakirakan biasanya akan berlangsung pada Januari dan Februari 2021.

Selain itu, fenomena ini sanggup membawa dampak musim hujan yang lebih panjang atau musim kemarau yang basah di wilayah Indonesia dan peningkatan curah hujan yang signifikan pada selagi musim hujan berlangsung, sehingga bencana hidrometeorologi rawan berlangsung di pelbagai wilayah Indonesia.

Fenomena La Nina merupakan fenomena iklim world yang ditandai bersama dengan adanya anomali suhu muka air laut di Samudera Pasifik tengah ekuator. Di wilayah tersebut, suhu muka air laut lebih dingin dari biasanya. Bahkan, BMKG menyebut hingga selagi ini suhu di sana capai lebih dari minus 1 derajat celcius.

La Nina termasuk membawa dampak curah hujan lebih tinggi sehingga meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor. Dilansir dari Kompas.com di Jakarta, Senin (26/10/2020) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) akan mengalami dampak fenomena La Nina lebih awal dari wilayah lainnya. Selanjutnya, sejumlah wilayah di Indonesia akan terdampak fenomena La Nina terasa November 2020 hingga ke Januari 2021 mendatang.

BMKG mengimbau semua Pemerintah Daerah dan stakeholder dan juga penduduk untuk tetap mewaspadai dampak La Nina.

4. Sirkulasi Siklonik

Sumber : bernas.id

Sudah lebih dari satu hari sejak memasuki bulan Februari, kami merasakan cuaca yang agak berbeda bersama dengan cuaca Februari pada tahun-tahun yang lalu. Beberapa area dilanda bencana alam. Mungkin kami tidak menyadarinya, hadirnya Sirkulasi Siklonik yang menyebabkan cuaca menjadi ekstrem yang diramalkan BMKG dapat melanda Indonesia pada kurang lebih tanggal 5-7 Februari, dan mempunyai dampak yang tidak baik untuk situasi cuaca kita. Karena itu kami mesti waspada dan menyiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem ini. Untuk di area perairan mampu menyiapkan peralatan dan perlengkapan logistik untuk menghadapinya.

Lalu apa memang Sirkulasi Siklonik yang sedang kami alami ini?

Sirkulasi siklonik adalah pusaran angin yang ‘mengajak’ massa udara atau uap air sebagai aspek utama pembentuk awan yang dapat bergerak ke arah pusaran angin tersebut. Hal ini menyebabkan bertumbuhnya awan signifikan, karena itu mesti diwaspadai dapat timbulnya hujan lebat dan cuaca yang ekstrem.

Angin Siklonik Tropik berlangsung di area tropis. Tetapi gerak siklonik susah berlangsung di area yang berada di dekat ekuator. Oleh karena itu, lokasi Indonesia bukan merupakan area yang mampu terjadinya pembentukan badai/siklon tropis melainkan posisi geografis kami berbatasan bersama dengan area terbentuknya siklon tropis dan area lintasannya.

Walaupun Indonesia safe berasal dari perlintasan siklon tropis, karena bibit siklon tropis yang terbentuk di lokasi tropis karakternya bergerak menghindari berasal dari area khatulistiwa. Penelitian dan kajian lebih dari satu instansi meteorologi dunia, termasuk didalamnya BMKG Indonesia, mendapati adanya penguatan intensitas siklon. Karena itu, dampak tidak segera berasal dari siklon tropis ini, yait berupa cuaca tidak baik makin lama kerap didapati di lokasi Indonesia.

Dampak berasal dari Sirkulasi Siklonik sendiri berupa hujan lebat, angin kencang, kilat dan petir. Di lebih dari satu area mampu menyebabkan gelombang laut yang tinggi raih 2,5-4 meter. Beberapa area berikut adalah Perairan Kepulauan Babar-Tanibar, Perairan Kepulauan Sermata-Leti, perairan selatan Jawa, Selat Sunda bagian selatan, perairan barat Lampung, dan perairan Enggano.

5. Dinamika atmosfer labil

Sumber : jurnalpatrolinews.co.id

Dinamika atmosfer labil Guswanto berkata, situasi dinamika atmosfer yang tidak stabil (labil) di dalam beberapa hari ke depan sanggup berpotensi menaikkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

“Untuk sepekan kedepan, tanda fenomena gelombang atmosfer layaknya MJO, Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin teridentifikasi masih cukup berkontribusi berarti pada peningkatan potensi hujan di wilayah Indonesia,” ujarnya.

Wilayah terdampak paling utama adalah wilayah Indonesia sebelah selatan ekuator layaknya wilayah Sumatera Selatan, Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap